by

Penting!!! ini makna Mebanten Mesaiban bagi Umat Hindu

Bali – Umat hindu khususnya Pulau dewata Bali ada tradisi yang yaitu Mebanten Mesaiban atau di daerah lain juga di sebut dengan mebanten nasi. Mebanten merupakan bentuk yadnya atau menghaturkan secara tulus iklas ke Pada Sang Maha Pencipta Ida Sang Hyang  Widi Wasa, Tuhan yang Maha Esa. Nah apa itu banten mesaiban? Mari kita simak penjelasan sebagai berikut

Makna mebanten mesaiban

Tuhan adalah yang utama , maka dari itu hal ini menjadi dasar mengapa umat Hindu menghaturkan terlebih dahulu masakannya sebelum disantap yg dikenal dengan mabanten Saiban atau Jotan.

Suatu tradisi Hindu di Bali yang biasa dilakukan setelah selesai memasak di pagi hari yg juga disebut dengan Yadnya Sesa atau bentuk yadnya yang paling sederhana sebagai realisasi Panca Yadnya dalam kehidupan sehari-hari.

seperti yang dikutip pada Bhagawadgita sloka 13, ‘Yadnya Sishtasinah Santo, Muchyante Sarva Kilbishaih, Bhunjante Te TV Agham Papa, Ye Pachanty Atma Karanat’  (Yang baik makan setelah upacara bakti, akan terlepas dari segala dosa, tetapi menyediakan makanan lezat hanya untuk diri sendiri, mereka sesungguhnya makan dosa).

Masaiban sebagai wujud syukur atas apa yang di berikan Hyang Widhi kepada kita Sebagaimana diketahui bahwa yadnya sebagai sarana untuk menghubungkan diri dengan Sang Hyang Widhi Wasa untuk memperoleh kesucian jiwa.

Bukan hanya  kita menghubungkan diri dengan Tuhan akan tetapi juga dengan semua manifestasi-Nya dan semua mahluk ciptaan-Nya. Persembahan sederhana yg biasanya dihaturkan menggunakan : daun pisang yang diisi nasi , garam dan lauk pauk yang disajikan sesuai dengan apa yang dimasak hari itu, yang proses pembuatannya sukla.

Ada lima tempat penting yang dihaturkan Yadnya Sesa (Masaiban), sebagai simbol dari Panca Maha Bhuta :

  1. Pertiwi (Tanah) biasanya ditempatkan pada pintu keluar rumah atau pintu halaman.
  2. Apah (Air) ditempatkan pada sumur atau tempat air bersih.
  3. Teja (Api) ditempatkan di dapur, pada tempat memasak tungku / kompor.
  4. Bayu , ditempatkan pada beras / ditempat nasi.
  5. Akasa, ditempatkan pada tempat sembahyang (pelangkiran,pelinggih dan lainnya).

Menurut Manawa Dharmasastra : dapur, jeding tempat air di dapur, batu asahan, lesung, dan sapu yg dimana tempat terakhir ini disebut sebagai tempat keluarga melakukan Himsa Karma ( Perbuatan Membunuh ) , karena secara tidak sengaja telah melakukan pembunuhan binatang dan tetumbuhan dalam proses memasak.

Dan dinyatakan dosa-dosa yang kita lakukan saat mempersiapkan hidangan sehari-hari itu bisa dihapuskan dengan melakukan yadnya Sesa / mesaiban.

Dоа Yаdnуа Sеѕа yang dіtujukаn kepada Hyang Widhi melalui Iѕtаdеwаtа (dі tempat air, dapur, beras аtаu tеmраt nаѕі dan palinggih atau реlаngkіrаn) аdаlаh : ‘Om Atmа Tаt Twatma Sudhаmаm Swаhа, Swаѕtі Swаѕtі Sаrwа Dewa Sukha Prаdhаnа Yа Namah Swaha’. Yаng аrtіnуа, Om Hyang Wіdhі, sebagai раrаmаtmа daripada atma ѕеmоgа bеrbаhаgіа semua сірtааn-Mu уаng bеrwujud Dеwа.
Yаdnуа Sеѕа уаng dіtujukаn kераdа simbol-simbol Hуаng Widhi уаng bеrѕіfаt Bhuta, уаіtu Yаdnуа Sеѕа уаng dіtеmраtkаn раdа pertiwi atau tаnаh уаng doanya sebagai berikut :
‘Om Atma Tаt Twаtmа Sudhamam Swаhа, Swаѕtі Swasti Sarwa Bhuta, Kаlа, Dhurga Sukhа Prаdаnа Yа Nаmаh Swаhа. ‘( Om Sang Hуаng Wіdhі, Engkаulаh раrаmаtmа dаrіраdа аtmа, semoga bеrbаhаgіа ѕеmuа ciptaan-Mu yang berwujud bhutа,kаlа dan durghа).

Kesimpulannya semua itu sebagai wujud syukur kita kepada Tuhan dan menebus dosa atas membunuh hewan dan tumbuhan yang diolah menjadi hidangan makanan sehari – hari.

Semoga ulasan di atas memberikan wawasan yang lebih luas bagi kita semua.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.